“Labu Rompong” riwayatmu doeloe

Labu Kayu sebagai bahan pembuat labu rompong (foto:123rf.com)

PANGEAN ONLINE, Sejarah, babad, hikayat, riwayat, atau tambo dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau atau asal-usul (keturunan) silsilah, terutama bagi raja-raja yang memerintah. Adapun ilmu sejarah Pengetahuan sejarah meliputi pengetahuan akan kejadian-kejadian yang sudah lampau serta pengetahuan akan cara berpikir secara historis adalah ilmu yang digunakan untuk mempelajari peristiwa penting masa lalu manusia.

Kata sejarah secara harafiah berasal dari kata Arab (شجرة: šajaratun) yang artinya pohon. Dalam bahasa Arab sendiri, sejarah disebut tarikh (تاريخ ). Adapun kata tarikh dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih adalah waktu atau penanggalan. Kata Sejarah lebih dekat pada bahasa Yunani yaitu historia yang berarti ilmu atau orang pandai. Kemudian dalam bahasa Inggris menjadi history, yang berarti masa lalu manusia. Kata lain yang mendekati acuan tersebut adalah Geschichte yang berarti sudah terjadi.

Pandangan yang lain lagi menyatakan bahwa kekuatan sejarah sangatlah besar sehingga tidak mungkin dapat diubah oleh usaha manusia. Atau, walaupun mungkin ada yang dapat mengubah jalannya sejarah, orang-orang yang berkuasa biasanya terlalu dipusingkan oleh masalahnya sendiri sehingga gagal melihat gambaran secara keseluruhan.

Masih ada pandangan lain lagi yang menyatakan bahwa sejarah tidak pernah berulang, karena setiap kejadian sejarah adalah unik. Dalam hal ini, ada banyak faktor yang menyebabkan berlangsungnya suatu kejadian sejarah; tidak mungkin seluruh faktor ini muncul dan terulang lagi. Maka, pengetahuan yang telah dimiliki mengenai suatu kejadian di masa lampau tidak dapat secara sempurna diterapkan untuk kejadian di masa sekarang. Tetapi banyak yang menganggap bahwa pandangan ini tidak sepenuhnya benar, karena pelajaran sejarah tetap dapat dan harus diambil dari setiap kejadian sejarah. Apabila sebuah kesimpulan umum dapat dengan seksama diambil dari kejadian ini, maka kesimpulan ini dapat menjadi pelajaran yang penting. Misalnya: kinerja respon darurat bencana alam dapat terus dan harus ditingkatkan; walaupun setiap kejadian bencana alam memang, dengan sendirinya, unik.

Topik yang diangkat dalam tulisan ini adalah “Labu Rompong” riwayatmu doeloe, ini sangat menarik untuk dibahas karena labu rompong di zaman sekarang ini sudah lenyap dimakan zaman oleh tradisi yang sudah dianggap “maju” oleh peradaban manusia.

Banyak anak-anak muda sekarang ini khususnya di Kuantan Singingi yang tidak tahu bahkan tidak mengenal sama sekali apa itu Labu Rompong, padahal dulu hampir disetiap rumah ditemukan labu rompong, apa itu labu rompong? sejenis makankah, tentu saja tidak. jika diartikan secara harfiah kata labu rompong, labu adalah buah labu yang berbentuk bulat (dalam hal ini adalah jenis labu kayu yang mempunyai kulit yang cukup keras) dan kata rompong mempunyai arti sumbing atau berlubang. Labu hutan atau “labu kayu” merupakan sejenis tumbuhan yang tidak dibudidayakan tapi tumbuh dengan sendirinya (alami) di hutan dan tidak dapat dikonsumsi.

Dahulunya di desa-desa sarana transportasi yang diandalkan adalah Sungai Kuantan, jalan-jalan yang ada di desa belumlah terjamah oleh semenisasi seperti yang kita lihat sekarang ini. penduduk desa yang umumnya mempunyai mata pencaharian bertani dan berkebun karet (panakiak). setiap hari mempunyai aktifitas diluar rumah, bahkan dalam menjalankan aktifitas tersebut jarang yang memakai sendal atau alas kaki, terlebih lagi jika musim hujan telah tiba, maka untuk membersihkan kaki jika akan masuk kerumah dibuatlah rak dari bambu semacam balai-balai, diatasnya disusunlah labu rompong tadi yang sebelumnya telah diisi air yang diambil dari Sungai Kuantan. pembuatan labu rompong sangatlah mudah, labu kayu yang cukup tua dipetik dan dilubangi pada bagian atasnya, isinya dikeluarkan dan dibersihkan, setelah kosong labu tersebut diisi air, maka jadilah labu rompong. jika sudah lama labu tersebut berwarna coklat tua (seperti batok kelapa) dan cukup keras.

Jika sekarang ini kita lihat dikampung-kampung maka tidak akan ditemukan lagi balai-balai bambu yang diatasnya ada labu rompong, karena selain jalan yang sudah bagus, gaya hidup dan aktifitas masyarakatpun sudah mulai berubah. (jun/pangean online)

10 comments on ““Labu Rompong” riwayatmu doeloe

    • terima kasih atas kunjungannya di blog ini pak mardianto, memang kebudayaan, seni dan adat istiadat kita yang unik dan menarik ini perlu kita lestarikan, sehingga tidak akan hilang ditelan zaman. semoga blog ini semakin informatif dan sebagai referensi bagi kita untuk mengenal lebih jauh tentang kebudayaan kuantan singingi khususnya. salam pangean online.

  1. dimasuan tunjuak ka dalam aiar labu rompong magak ken sojuak ro ma e….ambo lai ado sabua paninggalan tuban ambo ma, ambo gantuang di ate salang..ado crto lain m..

    • septi & erhan, jika punya cerita yang menarik dan unik tentang kisah2 pangean silahkan kirim ke redaksi pangean online, nanti kita akan muat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s