Indahnya kebersamaan disaat permainan tradisional masih ada

Oleh: Junedi

Berawal dari sebuah situs jejaring sosial yang sedang marak digunakan saat ini, Facebook..yah sebuah kata yang tidak asing lagi di dengar baik itu oleh anak- anak sampai orang tua-tua walaupun kadangkala mereka hanya bisa menyebutnya saja dengan logat Indonesia (pesbuk) tanpa tahu apa arti yang sebenarnya baik secara harfiah maupun kegunaan aplikasi itu sendiri yang bercokol di komputer dan telepon genggam, situs media pertemanan ini menemukanku dengan kawan-kawan lama dan menambah kawan baru yang notabene orangnya entah dimana berada di seantero jagad ini. Setelah sekian lama berkomunikasi dengan kawan lama akhirnya sampai juga di pertemuan hari raya Idul Fitri dimana kami terakhir kali bertemu 16 tahun yang lalu, dimana masa itulah boleh dikatakan detik-detik terakhir segala bentuk permainan anak-anak tradisional yang saat ini sangat sulit dan bahkan sudah tidak dimainkan lagi oleh anak-anak dimasa sekarang.

Disaat bulan purnama permainan yang paling mengasyikkan adalah permainan sepak kaleng, dimana permainan ini menggunakan kaleng bekas susu ataupun kaleng bekas ikan sarden yang terbuang, kaleng-kaleng tersebut disusun rapi menyerupai sebuah tugu dan permainan ini dimainkan secara berkelompok maupun perorangan, bagi kelompok yang menang merekalah yang bersembunyi di sekitar area permainan dan kelompok yang kalah lah yang mencari sampai ketemu di bawah cahaya bulan purnama, jika penjaga kaleng lengah maka secara sengaja anggota kelompok yang bersembunyi menendang susunan kaleng tersebut sampai berserakan bahkan terpental jauh dan kembali bersembunyi, sebelum permainan ditentukan siapa yang menang dan kalah utusan kelompok ini terlebih dahulu melakukan pengundian dengan cara omplong atau osit, yaitu acungan jempol atau jari lainnya yang diacungkan kedepan secara bersamaan. Terkadang begitu serunya permainan ini sampai dilakukan hingga larut malam dan bahkan bisa bersambung ke malam berikutnya. Permainan ini mengajarkan kepada kita akan pentingnya kekompakan dan kerjasama.

Jika kami pulang dari sekolah yang waktu itu masih duduk di sekolah dasar, permainan yang tak kalah serunya adalah main gobok, nah permainan yang satu ini sudah tidak asing lagi pada waktu itu, saking serunya permainan ini ada teman yang menangis kesakitan akibat lembaran bola tenis yang menghujam keras dipunggungnya karena tidak sempat berlari menjauhi pemain yang kalah, akibatnya punggungnya merah merona akibat bekas hujaman bola tenis tersebut, permainan ini cukup sederhana, pertama-tama dibuatlah lubang diatas tanah yang tidak berumput yang berukuran sama dengan diameter bola tenis, jumlah lubang yang dibuat sesuai dengan jumlah para pemain, kemudian ditulislah kode nama masing-masing pemain di bagian atas lubang tersebut, siapkan kerikil untuk menandai berapa kali dia kena lemparan bola tenis, siapa yang mempunyai kerikil yang terbanyak diakhir permainan dialah yang kalah, bola tenis tersebut digulirkan dari jarak kira-kira 2 meter dari lubang tersebut jika bola tenis masuk ke salah satu lubang, maka pemilik lubang dengan segera melemparkan bola tenis tersebut kepada pemain lain yang tentu saja sedari awal telah bersiap untuk berlari sekencang-kencangnya menjauhi lubang gobok tersebut.

Pacu Jalur adalah salah satu budaya rantau kuantan ini yang patut kita banggakan, memang event ini dilakukan hanya setahun sekali, itupun melibatkan orang-orang dewasa saja yang mempunyai kemampuan untuk mendayung perahu super panjang ini yang dapat membawa lebih kurang 60 orang pendayung, namun buat anak-anak dimasa itu pun mempunyai pacu jalur sendiri yang dibuat dari dahan pohon yang tidak terlalu keras seperti pohon pulai (Nama latinnya Alstonia spectabilis R.Br). Maka beramai-ramailah kami mencari pohon tersebut untuk dibuatkan miniatur jalur, setelah selesai miniatur jalur tersebut kami hanyutkan dan diperlombakan di saluran irigasi yang kebetulan melewati kampung kami, begitu serunya permainan ini saat selesai bermain semuanya menggigil kedinginan, seru memang, tapi imbalannya setiba dirumah mendapat omelan dari orang tua, betapa tidak pulang bermain dengan celana dsn baju yang basah kuyup.

Pohon Enau

Berbeda dengan pacu jalur miniatur yang kami lakukan di air, ada suatu permainan pacu lajur ini yang dapat dilakukan didarat. Pacu Onau, begitulah nama dari permainan ini, mengapa dinamakan pacu onau? Karena bahan kayu jalur yang digunakan dalam permainan ini terbuat dari pelepah pohon enau (nama latinnya Arenga Pinnata) yang cukup tua, semakin tua pelepah enau yang digunakan maka semakin bagus untuk dibuat jalur onau ini. Pertama pelepah enau yang cukup tua dipotong dibagian pangkalnya kemudian dipotong menyerupai stick kira-kira panjangnya lebih kurang 1,5-2 meter, dibentuk sedemikian rupa menyerupai jalur sungguhan dan bagian pangkal pelepah enau ini merupakan haluan dari jalur onau ini, bagian bawah pelepah dikikis menggunakan pisau maupun potongan kaca sehingga tampak bagian pelepah yang berwarna hitam dan licin, nah bagian hitam inilah yang nantinya akan meluncur diatas tanah.

Permainan ini cukup mudah, kita hanya mempunyai keterampilan meluncurkan jalur onau ini diatas tanah maupun pasir, siapa yang jalurnya paling jauh dialah yang jadi pemenangnya, selain hanya untuk pemainan saja, ada pula permainan ini dimainkan mempunyai taruhan..berjudikah?? tentu saja tidak, taruhannya bukanlah uang, karena kami tahu berjudi adalah sesuatu kelakuan yang sangat berdosa, akan sangat tabu jika kata-kata judi diperdengarkan ditelinga kami. Taruhannya adalah polok…ya polok, kata asing ini tentu saja membuat kita terperangah dan akan sangat lucu jika mengetahui apa sebenarnya benda berharga yang bernama polok itu.

Polok terbuat dari lipatan bungkus rokok yang zamannya pada masa itu bungkus rokok bukanlah terbuat dari karton yang bagus seperti yang kita lihat sekarang ini, bungkus rokok murahan saja, yang jika kita buka hati-hati akan menyerupai lembaran uang, uniknya polok ini dilipat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk lipatan kertas segitiga, benda ajaib inilah yang menjadi taruhan permainan ketika masa itu. Mendapatkan kertas rokok bukanlah sesuatu hal yang mudah, karena yang merokok pada masa itu hanyalah orang dewasa saja dan orang yang mempunyai cukup uang  yang sanggup membeli rokok berbungkus itu, bagi yang tak cukup uang mereka lebih memilih rokok pucuk yang terbuat dari pucuk daun nipah, yang harus diisi tembakau dulu baru bisa dinyalakan. Maka tentu saja polok sangat berharga bagi kami, karena sulit mendapatkannya. Sangat berbeda dengan masa kini, anak sekolah menengah pertama sudah berani-beraninya menenteng rokok disepanjang jalan, sungguh suatu pemandangan yang sangat tak menyenangkan dan memprihatinkan.

Sebuah organisasi kepemudaan tergugah hatinya untuk membangkitkan kembali permainan tradisional ini, suatu waktu mereka mengadakan perlombaan pacu onau yang dilaksanakan di ibukota Kecamatan Pangean, tak ayal para tetua dan masyarakat tersentak kaget bagaikan orang yang bangun dari tidurnya tengah bermimpi buruk, karena permainan ini kembali dikumandangkan dan bahkan diperlombakan dengan hadiah yang cukup membuat kantong mereka berlapang dada agak seminggu tanpa bekerja. Karena sudah lama permainan ini tidak dimainkan lagi, dan bahkan anak-anak tidak mengenal apa itu pacu onau. Karena sepanjang negeri ini pohon enau (Arenga Pinnata) tidaklah terlalu sulit didapat, dengan semangat yang menggebu-gebu orang-orang mulai sibuk mencari pelepah enau, mulai dari kebun dan palak tak luput dari pantauan orang, sehingga dimana-mana pohon enau tinggallah hanya pucuk saja tanpa pelepah sebatang juga dan bahkan pelepah enau ini menjadi komoditas dagang oleh para pedagang dari Provinsi Sumatera Barat, betapa tidak sebatang pelepah enau yang sudah dibelah pas untuk membuat sebuah jalur onau dijual Rp.5000, dalam satu pelepah enau ini bisa membuat 4-5 buah jalur enau, berarti mereka telah menjual pelepah enau ini sebatang lebih kurang Rp.25.000,- padahal dikampungnya pelepah enau ini mungkin saja terbuang sia-sia.

Pagi-pagi buta bahkan sampai subuh sekelompok orang yang mengaku pecinta permainan ini bagaikan kemasukan syetan saja, mereka tak peduli lagi akan kerbaunya yang dilepas di pematang sawah, tak peduli lagi akan ayam dan itik yang lupa dikurung setiap senja, dan lebih parahnya bahkan tak peduli lagi akan rumah dan anak isteri mereka, sejak pagi sampai subuh esok harinya mereka berkerumun di sepanjang jalan desa yang beraspal, bahkan dimalam hari mereka menghidupkan genset jinjing untuk menerangi area permainan itu, begitu semangatkah mereka berlatih paju onau ini?, ataukah memang masa kecilnya dulu yang tidak bahagia sehingga setelah dewasa mereka seakan-akan menjadi anak-anak, beribu pertanyaan yang timbul akibat dampak dari pacu onau ini. Selidik punya selidik ternyata pemainan pacu onau ini sudah mereka kotori dengan judi…ya..memang benar adanya kalau dasar otak judi apapun yang mereka lakukan ujung-ujungnya adalah taruhan, permainan yang seharusnya dilestarikan itu mereka gunakan untuk berjudi. Sungguh ironis..!

Permainan yang unik lainnya yang sering dimainkan selepas ashar adalah sitengkak. Sitengkak adalah permainan ketangkasan melompat dengan sebelah kaki yang dibatasi oleh garis-garis yang ditorehkan ke tanah berpasir, menggunakan sebuah batu yang berbentuk pipih yang sengaja dicari selepas pulang sekolah di onggokan batu dan sepanjang jalan menuju sekolah kami, terkadang batu yang digunakan bisa saja terbuat dari pecahan marmer bekas lantai yang pecah. Ada tiga jenis permainan sitengkak ini berdasarkan pola garis yang dibuat, yang pertama sitengkak bulan, karena pola garisnya menyerupai setengah lingkaran, kedua sitengkak sipuak pola garisnya membentuk delapan kolom dan yang terakhir sitengkak bunga, pola garisnya menyerupai bunga matahari. Permainan ini dangat sederhana. Pertama, membuat pola garis yang ditorehkan menggunakan ranting kayu sesuai dengan permainan sitengkak jenis apa yang akan dimainkan. Setelah dilakukan pengundian sistem osit atau omplong pemenang osit lah yang terlebih dahulu memainkan dengan cara melempar batu pipih kedalam kotak garis yang telah dibuat tadi, jika dalam lompatan sebelah kaki terpijak garis maka tidak sah dan dilanjutkan permainan ini oleh rekan yang lainnya.

Satu permainan tradisional yang sampai saat ini sudah tidak tampak lagi adalah main ombui…dulunya aneka permainan tradisional dilakukan bermusim-musim, maksudnya disini adalah suatu waktu permainan dimainkan serentak hampir disepanjang kampung, misalnya saat ini lagi musim main pacu onau, setelah itu berganti lagi musim main ombui dan main yeye. Permainan ombui dan main yeye ini sangat simpel dan sederhana, hanya menggunakan karet gelang yang terbuang, ataupun karet gelang bekas mengikat bungkus ikan asin dan ikan bilis yang dibeli dipasar jum’at. Tapi terkadang kami mencari karet gelang tersebut di pasar setelah pasar jum’at tutup. Setelah cukup banyak mengumpulkan karet gelang itu barulah bisa memainkan permainan ini, kalau permainan ombui tidaklah terlalu banyak menggunakan karet gelang, akan tetapi permainan yeye lah yang menggunakan banyak karet gelang. Cara memainkan permainan ini adalah dengan meletakkan sebuah karet gelang di permukaan lantai dan duduk berhadap-hadapan, karet gelang tersebut ditiup secara bergantian, siapa yang karet gelangnya menindih karet gelang lawan, maka dialah yang menang, maka dia berhak mengambil karet gelang lawan tersebut. Berbeda dengan permainan yeye, permainan ini mirip dengan permainan tali, hanya saja talinya terbuat dari karet gelang yang dikait-kaitkan sehingga membentuk tali yang berukuran panjangnya lebih kurang 3 meter.

Main semban juga menjadi trend permainan anak-anak yang cukup mengasikkan ketika itu, tapi kebanyakan permainan ini dilakukan oleh anak perempuan, permainan ini menggunakan sebuah bola tenis dan beberapa butir batu kerikil, cara memainkan permainan ini juga memerlukan sedikit keterampilan memainkan dan mengambil batu kerikil, serta kejelian mata. Permainan ini dilakukan sambil duduk, mulanya kerikil tadi dionggok dilantai dan bola tenis dilempar keatas, batu kerikil tadi langsung dipepar atau diserakkan dilantai, seketika itu juga bola tenis langsung ditangkap dan jangan sampai jatuh, kemudia bola tenis dilempar lagi keatas dan kerikilnya diambil satu persatu sampai kerikil yang dilantai tadi habis. Jika dalam memainkannya bola tenis tidak terjatuh dan batu kerikilnya bisa diambil semua maka dialah sebagai pemenangnya.

Dari sederetan permainan diatas, salah satu permainan yang cukup menantang dan beresiko terkena lemparan ranting kayu adalah permainan tukual palo boluik, permainan ini hampir di seantero negeri ini pernah ada hanya saja namanya yang berbeda disetiap negeri. Asal muasal nama permainan ini adalah dari orang tua-tua kita yang dulunya setiap turun ke sawah untuk menanam padi sering menjumpai ikan belut (boluik) yang kebetulan banyak bersarang di pematang sawah, cara menangkapnya adalah dengan dipukul menggunakan sebatang ranting kayu, karena permainan ini mirip dengan kepala ikan belut yang sedang hendak keluar dari lubang sarangnya maka dari itu diberi nama tukual kapalo boluik (pukul kepala belut), cara memainkan permainan ini, pertama kita harus mempersiapkan dulu dua buah ranting kayu yang berbentuk lurus kira-kira berdiameter 1.5 – 2 cm  yang mempunyai ukuran panjang masing-masing 15 cm dan 40 cm, dimainkan oleh sedikitnya 5 orang, pertama buatlah lubang yang agak memanjang sekitar 10 cm di tanah yang tidak berumput, letakkan ranting kayu yang berukuran lebih kurang 15 cm tadi didalam lubang yang pada salah satu ujungnya agak terangkat dari permukaan tanah, bagian ujung inilah yang dipukul dan kemudian dipukul sehingga terlempar ke arah pemain lain yang sedang menunggu untuk dapat menangkap kayu tersebut.

Sebenarnya masih banyak lagi permainan tradisional yang pada masa itu dimainkan yang pada saat sekarang ini kita tak lagi menemukannya dan mungkin anak-anak sekarang tidak mengetahuinya dan bahkan mungkin tak mendengar sedikitpun cerita tentang aneka permainan ini, mereka saat ini telah disibukkan dengan permainan baru yang sarat dengan resiko kesehatan mata seperti main game komputer ataupun Playstation dan bahkan untuk mencari teman saja tanpa harus keluar rumah,  cukup membuka komputer maupun telepon genggam yang katanya sarat dengan teknologi canggih, akan tetapi sangat miskin dengan interaksi sosial. (jn)

Iklan

5 comments on “Indahnya kebersamaan disaat permainan tradisional masih ada

    • mudah2an permainan tradisional akan diangkat dan tetap dilestarikan, selain merupakan suatu permainan, permainan tradisional ini mempunyai filosofi dan pesan tersendiri dalam kehidupan sosial.

  1. Ping-balik: Seni & Budaya Kuansing « Dhika7

  2. imformasi di atas bisa saja kita lahirkan kembali pada generasi saat ini mlalui karya seni yg kita kemas&kita aplikasikan melalui seni musik&seni tari semoga saja setelah ini segera muncul karya2 tersebut.., semoga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s