Mendongengkan Rimba

Oleh: Mardianto Manan

Masih dalam ingatan semasa kecil dulu di kampung halaman tercinta, tepatnya di Kenegerian Pangean Kuansing, dimana dikala bapak pergi “mararuah” ke hutan, kami penuh harap agar beliau pulang cepat sorenya, karena beliau berangkat sewaktu subuh disaat kakinya bergelut dengan “acek” karena suasana hutan waktu itu adalah hutan basah dan sangat nyaman sekali untuk dinikmati, seperti berada di tengah gedung “panggarogau langik” yang ber-ayiaar kondisen- dengan suhu 14’c. Sayapun pernah suatu ketika diajak bapak, dengan memakai baju panjang lengan, dan “salowar” yang ujungnya telah diikat dengan “kojai”, yang bermaksud agar acek tidak menyatu dengan tubuh kita.

Kenapa kami harap penuh rasa penasaran menunggu bapak pulang dari hutan ? karena penasaran melihat apa yang dibawa bapak dari hutan nantinya, suatu hal yang pasti membawa bermacam-macam buah-buahan, “tampui, cupak, garabinti, kayu kolek, buah rotan gai”, bahkan kabau saudaranya jengkol sampai ke petaipun dibawa bapak, bahkan kadangkala bapak membawa kancil, kijang atau rusa hasil tangkapannya bersama kerabatnya yang sama-sama pergi kehutan, pokoknya dikala bapak pulang dari hutan, bagaikan kita saat ini pulang dari pasar cik puan jika kita berada di kota ini. Membawa semua kebutuhan sehari-hari bahkan seminggu dan sebulan kedepan, betapa indahnya hidup dikala jaman itu, hutan adalah gudang mencari nafkah, hutan adalah sumber segala kehidupan kami sekampung dan senegeri.
Namun semua itu hanyalah tinggal kenangan yang tak perlu diratapi lagi karena semua itu sudah berubah menjadi lain sama sekali, bahkan cerita ini akan jadi dongeng dan cerita mau tidur bagi anak cucu kita nantinya, juga berkemungkinan sekarang sudah menjadi cerita dongeng bagi sebagian para pembaca sekalian. Walaupun sewaktu itu bapak dan “mondek” kita juga menebang dan menebas, namun mereka masih mempunyai perasaan yang penuh dengan tanggung jawab bersama, selalu mempunyai naluri menanam dan menanam dengan tanaman yang sama atau beda.
Masih segar dalam ingatan kami, jika makan rambai bahkan kadang kala juga rambutan, tampangnya (biji) cendrung kami telan, dengan maksud apabila terasa mau buang air besar maka kami berlari-lari ke “palak” atau ke pinggiran hutan untuk buang hajat, karena umumnya buang air besar kita diikuti oleh biji-bijian buah yang kami makan, alhasil akan tumbuh jadi bibit baru lagi untuk melanjutkan kelangsungan hidup buah-buahan tersebut dimasa yang akan datang untuk generasi penerus. Demikianlah arifnya orang tua kita waktu itu, dimana ‘guncirik’pun bisa diajak menanam dan menanam sekaligus jadi pupuk organic tanaman yang kaya akan unsure nitrogennya.
Kesimpulannya bahwa Masyarakat sekitar hutan cukup arif dan bijaksana dalam mengelola hutannya. Sebagai contoh kasus ditempat lain atau di Riau sendiri, Suku Sakai, Bonai, Petalangan dan suku lainnya yang ada di Indonesia, cukup arif dan bersahaja memelihara hutan dan sebatang pohon. Menebang pohon dianggap kesalahan terbesar kedua setelah membunuh manusia, dimana ketika sebatang pohon ditebang warga demi untuk kepentingan pribadi maka warga tersebut didenda, bahkan jika tanaman tersebut sudah berumur panjang dan tua maka tanaman tersebut dibungkus dengan kain putih, sebagai pertanda penghormatan pada pohon tersebut.
Makanya di Kuansing sewaktu kayu besar akan diambil untuk keperluan jalur, maka semua orang sekampung pergi menebang pohon tersebut dengan membawa orang pintar sebagai penghormatan pada pohon yang akan ditebang tersebut, dan waktu dan harinya untuk menebangpun ditentukan harinya. Dengan mantera yang dibaca yang intinya meminta pada Allah SWT, agar tanaman ini akan tumbuh lagi penggantinya, dan dimohonkan keselamatan dikemudian hari bagi anak cucunya.
Kemudian beberapa perusahaan besar datang yang menyebabkan semua kenangan diatas hanyalah tinggal kenangan yang akan dinikmati oleh anak cucu dimasa yang akan datang, akibatnya Yang kaya pengusaha dan oknum penjabat dan menanggung beban adalah masyarakat setempat. Apalagi yang berkedok memakai HPH yang melahirkan kerusakan sumber daya hutan dan marginalisasi masyarakat, rusaknya sumber daya hutan, degradasi keanekaragaman hayati, banjir berketerusan dan longsor, Kasus 2002-2003 beberapa tahun yang lalu, terjadi 5 (lima) kali banjir besar berturut-turut, Hasil survey Greennomics, Walhi, ATTR di 7 (tujuh) kabupaten,
Akibatnya yang dialami masyarakat adalah kerugian langsung 876 M – APBD Riau 2002 1,3 Triliun, sedangkan kerugian tak langsung adalah berupa sakit yang dialami masyarakat setempat, bagkan kematian pun sering terjadi sebagai akibat penyakit yang diderita bahkan pengaruh langsung dari air yang dalam tersebut, ibarat kata orang Kuansing “tacobuar ka bondar, dicatuak dek ular, la taurak salowaaaar” ada juga berupa konflik-konflik yang berkepanjangan sampai saat ini.
Penyebab dari semua ini juga akibat tidak jelasnya pengakuan terhadap tanah ulayat apalagi selama jaman orde baru yang mengaburkan makna tanah ulayat, padahal pada Era Soekarno UU Agraria no. 60 / 1960 keberadaan ulayat diakui dengan cukup jelas, namun mulai pada era Soeharto UU no. 5/1967 tidak diakui lagi, dan bahkan sekarang keluar lagi Pepres baru tahun 2005, lebih parah lagi tidak hanya tanah ulayat yang tidak diakui bahkan tanah milik sendiripun sudah agak kabur makna kepemilikannya, disaat digunakan untuk kepentingan public, tetapi semoga saja hal seperti tidak terjadi pada pemilikan harta benda kita, seperti kepemilikan anak bini, kalau ini terjadi berarti ide me-nasakom-kan Negara ini nampaknya perlu diwaspadai, maka tak jole lerooo mano bini awak mano nen bini uraaang, semoga saja tidak demikian halnya.
Akhirnya jika mencari kambing hitam tentulah banyak yang akan didapatkan, tetapi saat ini semua nasi telah menjadi bubur bahkan semua kayu dihutanpun telah menjadi bubur bagi prusahaan besar yang bergerak dibidang bubur kertas ini, sekarang yang penting bagaimana kita membina yang ada, membuat mitra yang saling menguntungkan kita semua, mengurangi dampak yang timbul dari semua petaka yang mungkin akan muncul, bisa saja petaka langsung sebagai akibat musnahnya hutan basah seperti di Pangean yang saya katakan tadi, banjir berkelanjutan seperti temuan Grenomic, bahkan konflik-konflik yang terjadi dengan perusahaan dan sesama warga masyarakat, dan terjadinya degradasi sumber daya alam bahkan juga berdampak terjadinya degradasi moral yang dibawa pendatang (perusahaan) bermukim para germo dan wanita penghibur yang berada sekitar lingkaran perusahaan saat ini.
Semua ini perlu disikapi bersama, perlu suatu penelitian dan kajian yang mendalam, model seperti apa yang akan kita lakukan untuk pembinaan ini, syukur alhamdulillah pihak perusahaan sudah mempunyai konsep yang jelas sehingga mari kita bekerjasama menerapkan dilapangan, sehingga kambing hitam tidak bergentayangan di mana-mana, mari kita putih-sucikan untuk berkorban pada bulan depan, hari raya korban dengan menemukan kambing putih yang suci, kita sembelih semua keserakahan nafsu binatang yang diperlambang oleh kambing putih tersebut, sehingga nafsu syahwat merusak hutan, membabat hutan basah tanpa perasaan manusiawi.
Perbuatan tersebut sama saja halnya dengan membunuh manusia di Riau ini secara perlahan, jikalah demikian yang terjadi “hai para pengusaha, para penguasa alias penguasaha yang bejat saja yang membabat kayu balak, maka andapun akan kena bala nantinya, perbuatan anda sangat dibenci tuhan dikutuk seumur hidup. Untuk apa kaya tapi membuat orang lain tersiksa, untuk apa memegang jabatan tetapi membuat mudarat penduduk tempatan.

Catatan :
“mararuah” = mencari nafkah ke hutan
“acek” =pacet
“ayiaar kondisen” =air conditioner (ac)
“salowar” =celana
“kojai”, =karet kecil pengikat
“mondek” =sebutan ibu
“guncirik” =anus
“tacobuar ka bondar” =tergelincir ke parit besar
“dicatuak dek ular” =digigit ular
“la taurak salowaaar” =terlepas celana
tampui, cupak, =nama buahan
garabinti, kayu kolek, =nama buahan
buah rotan =nama buahan
“kabau” =nama buahan sejenis jengkol hutan

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s