Hutan Tiada Pohon

Oleh: Mardianto Manan

Ketika saya pulang kampung kemarin ke Kuantan Singingi, saya bersama kawan-kawan semasa di kampung dulu, menelusuri Batang Kuantan dengan perahu dayung, selama dalam perjalanan tak satupun monyet atau binatang lain yang kami temui di sepanjang Batang Kuantan tersebut, kecuali binatang ternak yang ditempatkan di tempat yang agak tinggi dibanding kawasan sekitarnya. Apakah binatang tersebut tak ada lagi, ataupun sedang bermalas ria menikmati kesejukan hari itu. Dalam hitungan menit, kami memasuki muara anak sungai, alamak….! suatu pemandangan yang menawan, hamparan air yang luas bagaikan danau raksasa membentang sejauh mata memandang, indah sekali sulit membayang apakah kita berada di kampung kecil atau sedang berliburan di tempat panorama sebuah objek wisata yang menggiurkan.
Sepanjang Batang Kuantan tersebut, saya selalu memperhatikan pemandangan alam di sekitar sungai, yang penuh dengan semak-semak, namun sangat susah mencari sebatang pohon di sekitar bantaran sungai tersebut, kecuali pohon sialang, itu pun hanya yang di tunggu oleh penghuninya (lebah-madu). Mungkin semua pohon-pohon tersebut sudah ditumbangkan untuk bahan mentah perusahaan kertas. Sedangkan tanah bekas tebangan pohon tersebut semua telah disulap untuk kebun kelapa sawit, sehingga capek mata memandang yang kelihatan hanyalah semak-semak belaka, yang dihiasi kebun kelapa sawit milik para konglomerat kampong atau pemilik perusahaan besar yang serakah yang telah meluluh lantakkan hutan kami, pohon-pohon kami semuanya, sehingga banjir ini kami panen pada saat ini.
Kuantan memang menawan, tetapi tak perawan lagi, demikianlah ungkapan yang keluar dari dari mulut saya sewaktu membincangkan hilangnya pohon-pohon tersebut, membuat kedua rekan saya tersenyum lebar mendengar kalimat singkat ini. “ya, demikianlah adanya hutan lebat sudah jarang, semak belukar sudah tertukar, dengan kebun sawit yang kekar. Sepanjang perjalanan tak ada lagi kami lihat kayu-kayu gelondongan yang ada di sepanjang batang tubuh sungai tersebut, yang sudah dilalap oleh perusahaan raksasa yang menyedot kekayaan alam di Bumi Lancang Kuning ini.
Ketika kami merapat ke bantaran sungai, dan duduk dekat rumah penduduk, kami berbincang lepas dengan penduduk setempat “beginilah nasib kami pak, tak pernah henti diterjang banjir, kalau sekarang kami susah makan dan tidur, tetapi besoknya akan berdampak lain lagi, kampung kami akan kotor dan becek dilanda limbah banjir ini, sekarang belum terasa pahitnya banjir, pak” katanya memelas. “tetapi setelah banjir ini selesai, maka musibah kami akan lebih parah lagi, karena semua pekerjaan berantakan, lingkungan kotor, rumah pada rusak, apalagi yang bahannya dari triplek, akumulasi semua itu akan menghancurkan semua kehidupan kami”.
Kejadian aneh sempat menerawang dalam benak saya, karena satu sisi satu keluarga tempat kami berkunjung bersedih dilanda banjir, disisi lain dikejauhan, disamping kanan rumah tempat kami bertandang, ada beberapa orang anak, justru tidak peduli dengan musibah ini. Mereka sibuk bermain alek-alekan dengan kawannya sesama besar, seakan arena banjir ini memberi keuntungan tersendiri bagi mereka, mereka tersenyum berlari-lari yang sambil mengarungi banjir di kampungnya.
Mungkinkah kita seperti anak itu…..? mencari kesenangan di atas penderitaan orang lain, tidak peduli sesama, tidak peduli musibah orang lain, dasar anak-anak yang belum berakal baliq. Semoga kita tidak demikian adanya, menggadaikan nama orang yang tertimpa musibah, untuk minta bantuan tetapi bantuan tersebut untuk keuntungan diri sendiri.(MM@Pangean Online)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s