Makkah Royal Clock Tower Gantikan GMT

PANGEAN ONLINE– 1 Ramadan 1431 H menjadi momen penting bagi pergantian waktu dunia. Lebih dari satu abad, sebuah titik di atas bukit di London telah diakui sebagai pusat waktu dunia dan titik awal setiap hari baru.

Tapi sekarang supremasi Greenwich Mean Time (GMT) ditantang oleh jam raksasa yang baru dibangun di Makkah.

Jam Makkah itu akan menjadi patokan baru bagi 1,5 miliar muslim dunia. Karena jam itu mulai berdetak pada Rabu, saat umat muslim mulai puasa bulan Ramadan. Jam itu duduk di atas Mekkah Royal Clock Tower yang mendominasi kota paling suci bagi umat Islam. Tempat itu adalah jantung dari sebuah kompleks luas yang didanai oleh pemerintah Arab Saudi yang juga akan hotel, pusat perbelanjaan dan ruang konferensi.

Jam empat wajah dan akan diterangi oleh dua juta lampu LED bersama dengan tulisan Arab besar: “Dalam nama Allah”. Jam berjalan menurut Standar Waktu Saudi yang tiga jam di depan GMT. Ketika puncak berkilauan ditambahkan, maka bangunan yang berdiri hampir 2.000 kaki itu menjadikan tertinggi kedua di dunia.

Warga Makkah juga akan diingatkan waktu untuk salat ketika 21.000 lampu hijau dan putih terlihat pada jarak 18 mil, berkedip selama lima kali sehari.

Tapi ulama Islam berharap pengaruh jam itu meregangkan lebih jauh dari padang pasir Arab Saudi, sebagai bagian dari rencana menjadikan Makkah menggantikan Observatorium Greenwich sebagai ‘’pusat sejati dari bumi.’’

Selama 125 tahun terakhir, masyarakat internasional telah menerima awal setiap hari harus diukur dari meridian utama yang mewakili bujur 0 derajat yang melewati Observatorium Greenwich. Mohammed al-Arkubi, manajer salah satu hotel di kompleks itu mengatakan, “Membuat waktu Makkah mengganti Greenwich Mean Time adalah tujuan…”

Yusuf al-Qaradawi, seorang ulama Mesir yang dikenal di seluruh dunia Islam karena acara televisi populernya “Syariah dan Kehidupan”,menyebut Makkah lebih cocok menjadi meridian utama karena keselarasan yang sempurna dengan medan magnetis utara.

Ia menyebut kota suci adalah “zona magnet nol” dan telah memenangkan dukungan dari beberapa ilmuwan Arab seperti Abdel-Baset al-Sayyed dari Pusat Penelitian Nasional Mesir yang mengatakan gaya magnet di Makkah kecil.

“Itu sebabnya jika seseorang melakukan perjalanan ke Makkah atau tinggal di sana, dia tinggal lebih lama, lebih sehat dan kurang dipengaruhi oleh gravitasi bumi,” katanya. “Anda mendapatkan penuh energi,” tambahnya.

Dalam sebuah konferensi di Doha 2008 silam, ulama dan cendikiawan muslim mempresentasikan argumentasi ilmiah mereka, yang menjelaskan alasan mengapa waktu Makkah pantas untuk dijadikan meridian global.

Jam super besar tersebut berada di tower pusat dari proyek Abraj Al-Bait. Jaraknya hanya 50 meter di seberang Masjidil Haram. Jam itu bisa dilihat dari kejauhan 17 km pada malam hari dan 11-12 km di siang hari. Sebuah perusahaan Jerman, Premiere Composite Technologies, mendesain jam tersebut.

Di tower tempat jam besar berada juga terdapat Pusat Pengamatan Bulan dan Museum Islam. Jika Royal Clock, nama jam besar itu, memberitahukan waktu-waktu salat setiap harinya, maka Pusat Pengamatan Bulan dan Museum Islam dipersiapkan untuk melestarikan pusaka Islam untuk generasi mendatang. Pusat Pengamatan Bulan akan dipakai untuk melihat hilal pertanda awal bulan-bulan haram atau suci. Dalam waktu-waktu khusus, cahaya vertikal sebanyak 16 lintasan akan ditembakkan ke langit hingga setinggi 10 km.

Jam yang pembangunannya diprakarsai oleh Raja Abdullah itu ditempatkan pada tower kelima dari Proyek Wakaf Raja Abdul Aziz di ketinggian 380 km. Jam bisa dilihat dari semua arah. Nama-nama Allah dituliskan di masing-masing jam dengan hiasan khas dekorasi Islam. Dua buah jam yang berseberangan tingginya mencapai 80 meter dan lebar 65 meter dengan diameter putar 39 meter. Dan dua jam lainnya memiliki tinggi 65 meter, lebar 43 meter dengan diameter putar 25 meter. Bagi pengunjung yang datang disediakan 2 buah lift untuk mengantar mereka naik ke balkon yang jaraknya hanya 5 meter di bawah jam.

Menara jam itu akan menjadi yang tertinggi di dunia. Lebih tinggi dari Palace of Culture and Science di Warsawa, Polandia; Big Ben di London; Rajabai Clock Tower di Mumbai (India), dan Allen-Bradley Clock Tower di Milwaukee, AS.

Proyek yang dilaksanakan oleh Proyek Wakaf Raja Abdul Aziz, yang bertanggung jawab atas pemeliharaan Masjidil Haram itu, merupakan salah satu proyek terbesar di dunia. Dengan total area garapan 1,4 juta m2. Didesain dengan menggunakan arsitekur Islam, proyek terdiri dari pembangunan 6 buah tower yang mencakup 6.000 unit hunian dengan biaya investasi 6 milyar riyal atau sekitar 1,6 milyar dollar AS.

Di dalam kompleks Abraj Al-Bait juga dibangun hotel berlantai 76. Bangunan towernya akan menjadi bangunan yang lebih tinggi 59 meter dari Taipei 101 Tower di Taiwan, namun 251 meter lebih rendah dari Burj Khalifa di Dubai, yang sekarang menjadi pencakar langit tertinggi di dunia.(hdc/int/jpnn/muh)@riaupos.com

sumber : http://www.riaupos.com/new/berita.php?act=full&id=3072&kat=3

By admin Posted in News

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s