Apa sebenarnya yang terjadi di PT.Drydock Batam?

foto: riaupos.com

PANGEAN ONLINE, Seperti yang diberitakan sebelumnya bahwa kerusuhan karyawan galangan kapal di Batam, PT. Drydock World Graha yang belokasi di Tanjung Uncang Pulau Batam ini mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Peristiwa ini langsung menjadi sorotan media elektronik maupun cetak se antero Indonesia, terlebih lagi terdengar-dengar bahwa hal tersebut dipicu akibat ulah oknum karyawan ekspatriat berkebangsaan India ini yang menghina Indonesia, benarkan begitu?.

Seperti yang Pangean Online kutip dari situs RiauPos.com (23/04/2010) menyebutkan bahwa sedikitnya Sembilan orang pekerja perusahaan galang kapal itu luka parah. Dua orang Indonesia dan enam pekerja berdarah India. dan Sedikitnya 38 mobil rusak parah, 5 di antaranya dibakar.

Tak hanya itu, lantai dasar gedung manajemen PT Drydock juga dibakar dan menghanguskan dokumen-dokumen penting perusahaan itu.

Gudang penyimpanan berbagai bahan dan peralatan yang bersebelahan dengan gedung manajemen juga dibakar. Ruang Departemen QC juga tak luput dari aksi pengrusakan. Kaca-kaca dan sejumlah peralatan kerja di ruangan itu hancur.

Kerusuhan ini pecah sekitar pukul 07.00 WIB, Kamis (22/4), saat para pekerja yang masuk pagi baru saja memulai aktivitasya. Termasuk sejumlah pentinggi di masing-masing departemen di perusahaan itu, baru saja menggelar rapat pagi.

Salah satunya, bagian kelistrikan proyek L205. Pagi itu mereka menggelar rapat di salah satu ruangan gedung manajemen. Di ruangan tersebut hadir para supervisor, baik yang berkewarganegaraan Indonesia maupun pekerja asing (WNA) berdarah India, Bangladesh, Filipina, Vietnam dan sejumlah pekerja asing lainnya.

Entah apa yang salah, tiba-tiba salah satu supervisor berdarah India, Ganesh, mengeluarkan kata-kata kasar dengan menyebut, “All Indonesian stupid” (semua orang Indonesia bodoh). Umpatan ini membuat supervisor berkewarganegaraan Indonesia yang hadir di ruangan itu naik pitam dan nyaris adu jotos. Tapi berhasil diredam.

Namun, umpatan itu kembali dilontarkan oleh Ganesh, supervisor bagian kelistrikan berdarah India di kapal L205 yang sedang dikerjakan. Dia memaki pekerja WNI dengan mengatakan “99 persen Indonesian Stupid”.

“Iya. Dia supervisor electrical,” ujar Ari, salah seorang pekerja subkontrak (subkon) di Drydock, kemarin.

Makian itu spontan menyulut emosi pekerja WNI lainnya. Adu jotos pun tak terhindarkan antara pekerja asing berdarah India dengan karyawan WNI —yang menurut mereka sudah sering mendapat hinaan serupa. “Kalau topi ini bisa ngomong, dia akan ngomong kalau tiap hari kita ini dimaki-maki bodoh dan sebutan lainnya,” ujar Ari, dari Departemen Quality Control.

Hinaan itupun dengan cepat menyebar ke sekitar 10.000 pekerja (termasuk karyawan subkon) Drydock yang masuk pagi itu. Total karyawan Drydock sendiri sekitar 15.000 orang. Mereka pun bergerak mencari rekan kerja mereka yang berdarah India. Mereka meminta agar pekerja asing berdarah India hengkang dari Batam.

Dengan menggunakan cat pilox, beberapa karyawan menuliskan permintaan agar WNA berdarah India keluar dari Batam. “We want India people move out”. Tulisan itu terpampang di dinding gedung owner di samping gedung manajemen.

Kemarahan pekerja yang merasa dilecehkan itu kian membuncah. Mobil sejumlah petinggi Drydock yang terparkir di depan gedung manajemen dan gedung owner, baik di belakang maupun di depan gedung jadi sasaran. Selain memecahkan kaca dan merusak badan mobil, mereka juga membakar beberapa di antaranya. Pantauan RPG di lokasi rusuh, ada 38 unit mobil berbagai merek, termasuk mobil mewah, rusak berat. 5 dari 38 mobil itu habis terbakar. Hanya beberapa mobil yang bertuliskan “Indonesia Punya” yang selamat dari aksi pembakaran.

Selain mobil, mereka juga merusak kursi dan meja di lobi gedung manajemen dan komputer. Pekerja yang marah membara itu menyulut api ke ruangan HRD setelah memecahkan kaca di lantai dasar. Api dengan cepat menyambar dokumen-dokumen yang menumpuk di meja kerja ruangan tersebut. Satpam perusahaan itu tak kuasa menahan emosi pekerja.

Beberapa pekerja di bagian manajemen, berhamburan keluar setelah melihat asap tebal dari lantai dasar. Sementara, pekerja asing, khususnya India yang takut dihakimi, memilih sembunyi di gedung manajemen dan gedung owner, serta beberapa ruangan lainnya di lantai dua dan tiga yang dinilai aman.

Beberapa di antara mereka panik dan nekat loncat dari lantai dua dan tiga. Bahkan seorang pekerja asing berdarah India ada yang patah kaki setelah terpeleset saat mencoba kabur dari lantai tiga.

Sekitar 30 menit bara di perusahaan milik pemodal asal Uni Emirate Arab itu meletus, satu kompi Brimob Polda Kepri tiba di lokasi bersama satu pleton anggota Samapta Poltabes Barelang dan Polda Kepri. Kemudian disusul dua pleton TNI AD dari Yonif 134 Tuah Sakti dan tiga unit mobil pemadam kebakaran.

Brimob yang datang langsung menghalau karyawan keluar kawasan Drydock dan mengamankan karyawan asing, khususnya yang berdarah India. Sementara petugas pemadaman internal (bagian safety) Drydock berusaha memadamkan api di lantai dasar gedung manajemen.

Sekitar satu jam kemudian, karyawan bersedia mundur dan keluar dari area Drydock. Namun, mereka masih terus meneriakkan agar orang-orang India keluar dari persembunyian mereka. “Keluar kau India,” teriak ribuan pekerja.

Sementara itu, Brimob terus menyisir gedung manajemen dan gedung owner serta gedung lainnya tempat pekerja asing sembunyi. Satu per satu pekerja asing itu dievakuasi ke mobil polisi dengan kawalan ketat Brimob. Termasuk pekerja asing berdarah Bangladesh, Vietnam, dan pekerja asing lainnya, sebelum dievakuasi lewat jalur laut.

Isu Sweeping
Amukan ribuan pekerja sempat reda setelah Kapoltabes Barelang, Kombes Leonidas, mengajak mereka berdialog. Kapoltabes bahkan dengan berjanji menindak tegas pekerja asing yang menghina pekerja lokal. “Saya akan minta supaya manajemennya memecat pekerja asing yang menyebut semua orang Indonesia bodoh,” katanya dengan pengeras suara.

Janji itu disambut tepuk tangan oleh pekerja. Sementara dialog berlangsung, sejumlah pekerja meneriakkan kata-kata provokatif. Mereka mengajak pekerja melakukan sweeping terhadap warga India. Meski tak ditanggapi, namun isu tersebut merebak sangat cepat di Tanjunguncang, kawasan industri yang banyak mempekerjakan tenaga asing berdarah India.

Sedikitnya 170 pekerja keturunan India di kawasan tersebut meninggalkan pekerjaannya pagi itu. Secara bergerombol mereka diangkut ke Mapolda Kepri di Nongsa. Selain 170 yang diungsikan di Mapolda, 44 lainnya ke Poltabes Barelang, juga untuk minta perlindungan. “Tolong Pak. Istri saya ada di rumah di Batujaji. Dia ketakutan. Tolong bantu bawa dia ke sini,” kata Iqbal Ibrahim, 32, pekerja berkewarganegaraan Bangladesh kepada polisi di Mapolda Kepri dengan bahasa Inggris seadanya.

Menurut Iqbal, selain istri ada juga saudaranya yang terkurung dalam rumah kontrakan mereka di Batuaji. “Mereka tak berani ke luar rumah karena takut kena sweeping,” ujarnya dengan ekspresi wajah cemas. Iqbal bekerja di PT Naninda Drydock, perusahaan shipyard yang berlokasi tak jauh dari meletusnya kericuhan. Dia mengatakan, situasi Naninda Drydock pagi itu baik-baik saja.

“Keributan tak sampai merambat ke Naninda. Tapi saya dengar mereka mau sweeping, jadi saya bersama teman lainnya meninggalkan pekerjaan dan mencari perlindungan polisi,” ujar lelaki yang terus memainkan ponsel ini. Iqbal belum tahu bagaimana nasibnya ke depan. “Mudah-mudahan cepat selesai dan saya bisa bekerja lagi. Saya benar-benar tak punya masalah,” tukasnya.

WN India Tersangka
Kapoltabes Barelang, Kombes Pol Leonidas Braksan, berjanji akan mengusut tuntas masalah tersebut. Ganesh yang dianggap menjadi pemicu, langsung ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

“Kami telah menetapkan seorang WN India sebagai tersangka. Inisialnya G. Dia diduga melakukan penghinaan terhadap sesama pekerja yang memicu kericuhan itu,” ungkap Leonidas Braksan kepada RPG tadi malam.

Mantan Dirintel Polda Kepri itu mengatakan, G bakal dikenakan pasal penghinaan karena menyampaikan perkataan menghina kepada sesama sehingga menimbulkan kemarahan pada sesama pekerja. Leonidas juga meminta rekan kerja G yang mendengar langsung kata-kata hinaan yang disampaikan untuk memberikan kesaksian di Mapoltabes Barelang. “Bagi para karyawan yang mendengar langsung perkataan penghinaan yang diucapkan tersangka agar datang ke Poltabes,” pintahnya.

Mantan Kapolres Ambon ini juga mengemukakan bahwasannya situasi keamanan di kawasan PT Drydocks, telah aman terkendali. Namun aparat keamanan masih melakukan pengamanan di kawasan shipyard tersebut hingga saat ini. “Situasinya telah kondusif. Batam kini terkendali pasca peristiwa itu,” tuturnya.

Leonidas juga menegaskan bahwa dalam kericuhan itu, tidak terdapat korban tewas. Tapi ada 9 orang yang terluka. Tiga diantaranya telah diizinkan pulang ke rumah dan lainnya masih dirawat intensif di rumah sakit. “Saya pastikan tak ada korban yang meninggal hingga saat ini,” pungkas Leonidas.

Sementara itu, sumber resmi di kepolisian mengemukakan, untuk mengamankan kota Batam pasca kericuhan Drydocks, Polda Pekanbaru mengirimkan 100 personil Brimob untuk di BKO-kan membantu personil kepolisian saat ini.

Ekspatriat Mengaku Pasrah
Sementara itu, puluhan ekspatriat dari berbagai negara yang bekerja di PT Drydocks, mengaku pasrah terhadap peristiwa pengrusakan dan pembakaran perusahaan shiping tersebut. Sebagian besar memilih ingin segera pulang ke negaranya karena khawatir menjadi korban anarkisme sesama pekerja di perusahaan tersebut. Ada pula yang mengaku masih menunggu kebijakan dari kedutaan negaranya yang ada di Indonesia untuk menentukan langkah mereka selanjutnya, setelah peristiwa tersebut. “Tergantung embassy saya. Kalau disuruh pulang terpaksa dituruti,” ujar Win Naing, salah satu warga Myanmar di Mapoltabes Barelang, kemarin.

Ekspatriat yang mengaku bekerja di bagian Welder Foreman PT Drydocks itu juga berharap agar kedutaan negaranya segera memperhatikan sesama WN Myanmar yang masih tercerai-berai hingga sore kemarin, pasca kerusuhan tersebut. Kata dia, ada sekitar 30 WN Myanmar yang bekerja di perusahaan tersebut dan keberadaan mereka belum diketahui secara pasti nasibnya.

Hal senada disampaikan Salaban, WN Malaysia yang menjadi commision enggineering perusahaan itu. Ia mengaku akan segera pulang ke negerinya itu karena khawatir dengan keselamatan jiwanya sementara peristiwa itu terjadi tanpa sepengetahuan mereka. Menurut dia, peristiwa yang mendadak mencekam itu membuatnya merasa takut dan pasrah untuk pulang ke negaranya.

Ashok Kumar, salah satu WN India juga mengemukakan hal serupa. Ia mengaku akan segera pulang ke negaranya karena takut dengan kondisi perusahaan yang terkena imbas kemarahan para pekerjanya itu. Padahal, kata konsultan PT Drydocks ini, selama bekerja ia tak pernah mendengar atau mengalami perselisihan antara sesama pekerja.

Bagi dia, semua pekerja adalah sama dan menjadi sahabat. Makanya ia sangat kaget setelah adanya peristiwa tersebut. “Kami semuanya sahabat. Ini baru pertama kali terjadi selama saya bekerja di PT Drydocks,” ujar Ashok.

Hingga sore kemarin, ada 42 ekspatriat dari berbagai negara di antaranya Belanda, Myanmar, Singapura dan Malaysia diamankan di Mapoltabes Barelang karena mereka tidak dimungkinkan untuk kembali ke tempat tinggalnya di mess PT Drydocks. Selebihnya, ada 170 ditampung sementara di Mapolda Kepri, Nongsa. Beberapa di antara mereka ada yang meminta pulang ke Singapura. Mereka mengaku pasrah dengan peristiwa tersebut dan berharap manajemen perusahaan shipyard itu segera menyelesaikan persoalan yang terjadi antara sesama pekerja.

Drydock Minta Maaf
Di bagianlain, Chief Executive Officier (CEO) PT DW Graha, Denis Welch, di depan pejabat Polda Kepri, meminta maaf atas peristiwa berdarah dan berbau sara di perusahaanya itu. Ia berjanji akan memperbaiki kondisi kerja di perusahaan galangan kapal itu. ‘Kami minta maaf dan turut menyesal dengan kejadian ini. Mudah-mudahan dengan pertemuan ini apa saja permasalahan-permasalahan yang dihadapi bisa diketahui dan dimasa depan bisa diantisipasi,’ ujar Denis.

Hadir dalam pertemuan usai kerusuhan reda Wakapolda Kepri Kombes Pol Bambang BS, Kabiro Binamitra Kombes Pol Ricky F Wakanno, Kabag Humas Polda Kepri AKBP Anggaria Lopis, Senior Manajer Personalia PTDW Graha Baharum, Manajer Operasional Vijay, beserta Ketua SPSI Kota Batam Syaful Badri dan anggotanya.

Denis juga menjanjikan, akan melakukan perbaikan kondisi dan kesejahteraan pekerja. Selain itu, perusahaan juga akan melakukan pelatihan-pelatihan agar keterampilan karyawan meningkat sesuai dengan keinginan. “Secara perlahan, kami juga akan melakukan pengurangan pengunaan tenaga kerja yang berasal dari sub kontraktor,” ujar Denis.

Senior Manajer Personalia PTDW, Graha Baharum, menambahkan, untuk sementara aktivitas pekerjaan di perusahaan tersebut dihentikan. Sampai kapan? “Kami tidak tahu sampai kapan. Tapi yang jelas aktivitas di perusahaan dihentikan untuk sementara,” ucap Baharum. Berapa besar kerugian yang dialami perusahaan akibat kerusuhan itu? Baharum belum bisa menyebutkan. “Kami inventarisir dulu kerusakan yang terjadi,” katanya. “Yang terpenting, pekerja bisa menenangkan diri dulu dan yang luka-luka bisa diobati,” ujar Baharum lagi.

Namun dia menjelaskan, selain kehilangan aset berupa kendaraan, komputer, meja, kursi, gudang logistik dan gedung terbakar bernilai miliaran rupiah, PT Drydock juga harus menanggung kerugian akibat penundaan pengerjaan sejumlah proyek dalam jangka waktu yang belum bisa ditetapkan. Kericuhan tersebut diperkirakan membuat Drydock yang bermitra dengan banyak perusahaan subkon ini rugi lebih Rp50 miliar. Ia menambahkan, pekerja asing yang rata-rata digaji 1.600 dolar Singapura per bulan itu berasal dari India, Bangladesh, Myanmar dan Malaysia. Jumlahnya 212 orang pekerja. “Secepatnya mereka akan kita pulangkan ke negara masing-masing,” ucapnya.

Kabiro Binamitra Polda Kepri, Kombes Pol Ricky F Wakanno, mengatakan, mereka yang terlibat pelanggaran hukum dalam kerusuhan akan tetap diproses. “Seperti, pemicu kasus tersebut (Ganesh, red) jelas akan diproses,” ucap Ricky.

Sementara itu, Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, Wakil Gubernur Kepri HM Sani, dan anggota DPD RI Aida Ismeth yang berkunjung ke lokasi kejadian di waktu berbeda menyayangkan kerusuhan tersebut. Mereka meminta pekerja menahan diri agar kondisi investasi di Batam tetap kondusif.

Hak Karyawan Banyak Tak Dipenuhi
Ketua SPSI Kota Batam, Syaiful Badri, membenarkan kalau aksi tersebut adalah spontan pekerja. Perusahaan itu, jelasnya, banyak melakukan kerugian pada kalangan pekerja seperti dengan mempergunakan tenaga kerja sub kontrak mereka tidak mendapatkan hak-hak seperti Tunjangan Hari Raya (THR) dan Tunjangan Hari Natal (THN).

Selain itu, jelasnya, perusahaan sub kontraktor dan main-kontraktor juga tidak toleransi dengan keluhan yang disampaikan karyawan. Perusahaan sub kontraktor PT Draydock Word itu, jelas Syaiful, tahun lalu masih membayar upah pekerja di bawah upah minimum sektor, melakukan pemotongan PPh 21 sebesar Rp200 ribu sampai Rp300 ribu per bulan pada pekerja lokal dan denda Rp500 ribu sampai Rp1 juta bagi yang melakukan pelangaran kerja.

Perbedaan perlakukan antara pekerja asing dengan lokal yang dilakukan perusahaan, sebut Syaiful, turut menjadi akar persoalan karyawan yang makin menumpuk. Seperti mengenai klaim pembayaran berobat. Karyawan atau pekerja subkon, jelasnya, tidak dapat mengklaim jika mengalami kecelakaan saat pulang dan pergi kerja. Kondisi ini, jelasnya, jauh berbeda dengan para pekerja asing yang mendapat fasilitas dan pelayanan memadai, serta dengan gaji lebih besar dari gaji pekerja lokal.

“Jadi aksi ini, apa yang dilakukan kalangan pekerja Drydock Word ini, merupakan akumulasi dari kondisi dan permasalahan yang dihadapi pekerja selama,” kata Syaful.

Kemenakertrans Kirim Tim
Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) membentuk dan menerjunkan Tim Pencari Fakta yang berangkat tadi malam ke lokasi PT Drydock. Tim segera berkoordinasi dengan Disnaker Batam untuk meneliti kemungkinan pelanggaran hak-hak normatif ketenagakerjaan dalam insiden yang dipicu unsur SARA tersebut

“Tim saya perintahkan bekerja cepat untuk menyelesaikan permasalahan tersebut tanpa waktu lama,” ujar Menteri Tenaga Kerja (Menakertrans), Muhaimin Iskandar, di Jakarta kemarin (22/4).

Agar kasus seperti ini tidak terulang lagi, Muhaimin mengatakan akan menerbitkan Surat Edaran kepada seluruh perusahaan yang mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (TKA). Agar perusahaan melakukan sosialisasi tentang tata cara dan budaya kerja di Indonesia dan menghindari konflik serupa. Muhaimin sendiri mengaku menyesalkan terjadinya unjuk rasa yang berakhir dengan kerusuhan PT Drydock, tersebut. “Laporan sementara ini dipicu miskomunikasi antara tenaga kerja asing dengan tenaga lokal. Semoga hal ini menjadi pelajaraan bagi kita semua, terutama perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja asing,” kata mantan Wakil Ketua DPR RI tersebut.

Muhaimin mengatakan, tim yang berangkat ke Batam dipimpin oleh Direktur Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (PHI), Haiyani Rumondang. Tim tersebut kata dia, akan terus memonitor perkembangan kasus dan mempelajarinya secara komprehensif. “Tugas tim akan difokuskan meneliti kemungkinan terjadi pelanggaran hak-hak normatif di bidang ketenagakerjaan serta menyelesaikan permasalahan tersebut secepatnya,” pungkasnya. (spt/amr/nur/ros/hbk)riaupos.com

Sumber : http://www.riaupos.com/berita.php?act=full&id=5982&kat=10

By admin Posted in News

One comment on “Apa sebenarnya yang terjadi di PT.Drydock Batam?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s