Study Analisis Dampak dan Manfaat Perkebunan Sawit terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Sekitar Perkebunan

PANGEAN ONLINE, Di dalam UU No 18 Tahun 2004 Pasal 1 disebutkan bahwa Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu pada tanah dan/atau media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai, mengolah dan memasarkan barang dan jasa hasil tanaman tersebut, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi, permodalan serta manajemen untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pelaku usaha perkebunan dan masyarakat.

Dilihat secara substansial, kebijakan konversi hutan dan perkebunan besar kelapa sawit tidak menyentuh sama sekali permasalahaan riil yang dihadapi rakyat dan merupakan pintu terakhir bagi pemusnahan hutan di atas bumi Indonesia. Rakyat telah mengusahakan sumber daya hutan menurut kearifan tradisional secara turun-temurun, dan membangun kelembagaan ekonomi berbasiskan sumber daya alam. Ternyata kebijakan yang ada sangat mengabaikan konsep pengelolaan sumber daya hutan menurut pengetahuan lokal dan penguasaan hak atas akses sumber daya alam secara adat.

Disamping itu, arah dari kebijakan pengembangan perkebunan besar kelapa sawit sangat top down dan tidak mengakomodasikan kondisi-kondisi internal yang ada pada lokasi-lokasi penyediaan areal perkebunan. Akibatnya terjadi kesenjangan antara ambisi pemerintah dan perusahaan besar untuk menjadikan Indonesia sebagai yang terbesar dunia di bidang perkebunan kelapa sawit.

Sementara keinginan rakyat untuk mempertahankan haknya atas sumber daya hutan dan pola pengelolaan hutan yang selama ini telah dijalankan sesuai pengetahuan local di genalisir atas naa pembangunan. Bila tidak bisa dibendung lagi, maka hutan tropis Indonesai hanya meninggalkan sejarah dan kenangan pahit bagi generasi mendatang, sementara kemiskinan akan tetap melekat pada kehidupan rakyat Indonesia.

Meskipun kebijakan kenversi hutan dan perkebunan besar kelapa sawit tidak mengakomodasikan kepentingan politik rakyat untuk mendapatkan pengakuan dalam mengakses sumber data alam, dalam implementasinya diperparah tindakan para pengusaha yang masih banyak melakukan peyimpangan untuk mendapatkan keuntungan dan penghisapan sumber ekonomi rakyat. Praktek melakukan mark up dalam penyediaan lahan, menyalahgunakan izin pemanfaatan kayu dan land clearing dalam pembukaan lahan dengan pembakaran, adalah contoh yang kerap ditemui di lapangan. Birokrasi pemerintahan yang berwenang dengan pelaksanaan konversi hutan dan penyediaan areal untuk perkebunan besar, begitu mudah mengeluarkan perizinan sehingga menguatkan tuduhan adanya persekongkolan antara birokrat dengan pengusaha.

Namun disisi lain dengan keberadaan perkebunan sawit telah menyebabkan munculnya sumber-sumber pendapatan baru yang bervariasi. Sebelum dibukanya kawasan perkebunan di pedesaan, misalnya sumber pendapatan masyarakat relatif homogen, yakni menggantungkan hidupnya pada sektor primer, memanfaatkan sumberdaya alam yang tersedia seperti apa adanya tanpa penggunaan teknologi yang berarti. Pada umumnya masyarakat hidup dari sektor pertanian sebagai petani tanaman pangan (terutama palawija) dan perkebunan (karet,kopi dll). Selain teknologi yang digunakan sangat sederhana dan monoton sifatnya tanpa pembaharuan (dari apa yang mampu dilakukan). Orientasi usahanya juga terbatas kepada pemenuhan kebutuhan keluarga untuk satu atau dua hari mendatang tanpa perencanaan pengembangan usaha yang jelas (subsisten).

Berbagai usaha telah dilakukan untuk meningkatkan perkonomian masyarakat pedesaan karena mayoritas penduduk yang tinggal di pedesaan masih tergolong miskin,  dan umumnya menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Munculnya pengembangan perkebunan sawit menimbulkan dampak positif dan negatif terhadap perekonomian masyarakat sekitarnya.

Suatu peluang usaha akan menjadi sumber pendapatan yang memberikan tambahan penghasilan kepada masyarakat jika mampu menangkap peluang usaha yang potensial dikembangkan menjadi suatu kegiatan usaha yang nyata. Dengan demikian kemampuan masyarakat memanfaatkan peluang yang ada akan dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat dalam menangkap peluang itu sendiri. Hal kedua adalah kemampuan mengorganisir sumberdaya yang dimiliki sedemikian rupa sehingga peluang yang potensial menjadi usaha yang secara aktual dapat dioperasikan (Basri, 2003).

Namun tak sedikit pula masyarakat yang tidak mampu menangkap peluang untuk meningkatkan perekonomiannya bahkan menjadi tidak mendapat manfaat yang nyata secara ekonomi dengan adanya perkebunan sawit, sehingga menurunkan tingkat kesejahteraan dan lebih tragis lagi mereka menjadi kuli ditanah sendiri.

Perkembangan pembangunan, khususnya di subsektor perkebunan terkadang belum begitu banyak berarti dalam rangka meningkatkan kemakmuran kehidupan masyarakat di sekitarnya, tidak cukup hanya sekedar meningkatkan produksi semata. Artinya strategi pembangunan yang diterapkan pemerintah selama ini yang mengacu hanya kepada landasan asumsi-asumsi ekonomi neo-klasik, perlu ditinjau kembali, sebab dalam paradigma itu manusia hanya dipandang dari satu sisi, yaitu sebagai makhluk rasional yang hanya terangsang oleh insentif material. Hal ini terbukti dalam realitas kehidupan sosial/ekonomi petani selama ini belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Karenanya untuk mengurai berbagai persoalan yang dihadapi dalam pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat saat ini sudah seharusnya mempertimbangkan potensi sumberdaya lokal, sebab telah dimilki, melembaga dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

Dengan berbagai proyek yang telah dikembangkan dibidang perkebunan belum ada jaminan membuahkan hasil yang signifikan terhadap kesejahteraan hidup petani, padahal sumbangan sektor perkebunan terhadap pendapatan daerah maupun nasional sangat besar melalui pajak, ironisnya tingkat pendapatan mayoritas penduduk disekitar perkebunan masih rendah, karena tingkat produksi masih rendah. (akarfoundation.org)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s