Dua Kenegerian di Kuansing Bentrok Massal, 22 Warga Terluka

PANGEAN ONLINE, BENAI-Diduga akibat berebut tanah ulayat, ribuan warga dua kenegerian di Kecamatan Benai, Kabupaten Kuantan Singingi, terlibat bentrok massal yang mengakibatkan 22 orang terluka, Sabtu (31/10). Hingga Minggu (1/11) malam, situasi di dua wilayah bertetangga itu yakni Kenegarian Teratak Air Hitam dan Simandola masih tegang kendati sudah kondusif. Berdasarkan informasi yang disarikan dari Koran Riau Mandiri di lapangan, bentrok massal itu pecah di kawasan Tanjakan Jirak, Desa Tebing Tinggi, Simandolak, Sabtu siang. Ribuan warga dari kedua wilayah itu bertemu dengan radius sekitar 100 meter hingga 800 meter.

Ribuan warga Teratak Air Hitam yang menggunakan senapan angin, menembaki massa dari Simandolak hingga tak bisa bergerak maju. Namun warga Simandolak kemudian mencoba melakukan perlawanan dengan lemparan batu dan juga menembak menggunakan senapan angin. Karena kekuatan tak seimbang, massa Simandolak mundur.

Meski bentrokan hanya berlangsung sekitar 45 menit, namun puluhan orang dilaporkan mengalami luka-luka. Salah seorang di antaranya, Sartono, anggota Satpol PP Kuansing yang berada di antara dua kelompok massa yang saling tembak dan lempar itu, terkena tembakan senapan angin dan peluru bersarang di atas bibirnya.

Aparat Kepolisian melarikan korban menggunakan sepeda motor ke klinik yang jaraknya sekitar 5 km dari tempat kejadian.

Untuk menghentikan aksi massa agar bentrok tidak berlanjut, Kasat Dalmas dan Yansen Amril, tokoh pemuda Teratak Air Hitam tidak membuahkan hasil. Bahkan Kasat Dalmaspun diserang warga. Bentrokan baru berakhir saat Wakapolres Kuansing, Kompol Hendri Dwi Prasetiyo, Kabag Ops Kompol Des Ando dan Kasat Reskrim, AKP Firman Sianipar serta Kasat Intel Polres Kuansing ke lokasi sekitar pukul 14.00 WIB. Dibantu puluhan personel Polres Kuansing dan anggota Koramil Teluk Kuantan, massa kedua kenegrian itu diperintahkan membubarkan diri.

Hingga pukul 18.00 WIB kerumunan massa mulai meninggalkan lokasi kejadian. Tapi warga Simandolak memprotes aparat Kepolisian karena massa Teratak Air Hitam melakukan aksi pengrusak rumah, membakar kebun karet milik warga Simandolak.

Mengungsi

Akibat kejadian itu, sedikitnya 8 kepala keluarga, warga Simandolak yang tingggal di Desa Jalur Patah harus mengungsi karena ada ancaman bunuh dari warga Teratak. Pantauan Riau Mandiri bersama aparat Kepolisian Polsek Persiapan benai, sedikitnya 5 rumah warga Simandolak termasuk kediaman Datuk Paduko Julelo Hamdan, MS dirusak massa. Kaca bagian depan dan samping hancur akibat dilempari batu dan hantaman benda keras, begitu juga pot bungga dan perabotan luar hancur berantakan.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, aparat Kepolisian menyarankan kepada warga Simandolak agar mengungsi ke rumah keluarga terdekat. Hingga malam aparat kepolisian tetap berjaga, dan Minggu (1/11), belasan warga Teratak Air Hitam dikabarkan masih melakukan sweeping terhadap warga Simandolak yang ada di Teratak Air Hitam.

Data yang dihimpun dari berbagai sumber menyebutkan, sedikitkan 14 warga Simandolak dan 8 orang warga Teratak Air Hitam mengalami luka ringan akibat terkena tembakan senapan angin dan seorang personel Satpol PP Kuansing. Informasi rumah warga yang rusak akibat amukan massa belum diketahui secara pasti.

Patok Batas

Salah seorang warga Simandolak, Dodoi (27), mengungkapkan, kejadian itu berawal Sabtu pagi sekitar pukul 08.00 WIB, ketika ia pergi menyadap karet di Desa Jalur Patah, Teratak Air Hitam. Belum sampai di lokasi, ia melihat ribuan warga Teratak Air Hitam menggunakan senjata berupa parang, celurit, kampak, tombak dan senapan angin bersiap-siap berjejer sepanjang 1 km menanti kedatangan warga Simandolak.

“Dari keterangan yang saya dapat, mereka menanti kedatangan warga Simandolak. Kabarnya, warga Simandolak itu akan mengambil tanah ulayat mereka yang tak jauh dari lokasi kejadian. Menurut pengakuan warga dan tokoh masyarakat Teratak Air Hitam itu, tanah ulayat tersebut sebagian milik mereka,” ujar Dodoi dengan tangan gemetaran.

Melihat jumlah massa yang begitu banyak, Dodoi memilih pulang sembari memberitahukan kondisi yang ada kepada kepala desanya. Bersamaan dengan itu, kabar pun mulai menyebar dengan cepat. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan Camat Benai, Endriansyah bersama Kapolsek Kuantan Tengah, AKP Mahmuddin dan Kapolsek Persiapan Benai, Ipda Masjang sudah turun ke lokasi.

Mereka mencoba mendekati 4 Kepala Desa Kenegrian Teratak Air Hitam serta tokoh pemuda dan tokoh adat agar melakukan perundingan di Kantor Camat Benai. Camat pun memanggil 5 Kepala Desa Kenegrian Simandolak bersama tokoh adat setempat. Rapat menghasilkan keputusan, dengan menyelesaikan persoalan tersebut secara musyawarah di Kantor BUpati Kuansing pada Senin ini. Utusan kedua belah pihak bersama Kapolsek dan Camat sepakat untuk menemui Wakil Bupati, H Mursini di kediamannya untuk membicarakan kepastian waktu dan jam perundingan.

Teror

Namun lantaran informasi simpang siur diterima masyarakat Simandolak, mereka pun terpancing emosi. Apalagi tersiar kabar, warga Kenegerian Teratak Air Hitam sudah melakukan aksi teror dan melakukan pengrusakan terhadap rumah warga Simandolak yang berdomisili di Teratak Air Hitam. Kemarahan warga Simandolak kian memuncak, begitu mengetahui patok batas desa di Desa Tebing Tinggi telah digeser sekitar 1 km dari titik awal oleh warga Teratak Air Hitam.

Awalnya, warga Simandolak hanya berkumpul di Simpang Tugu Gajah Putih, Lapogading tidak begitu banyak. Secara bergelombang massa mulai berdatangan dari 5 desa yang lengkap dengan berbagai persenjataan.

Aksi massa itu masih bisa diredam tokoh masyarakat Simandolak Hamdan, Masnur dan Aditiawarman serta sejumlah kepala desa. Karena massa terus berdatangan dan bertambah banyak ucapan tokoh masyarakat dan kepala desa tak lagi diindahkan massa.

Massa terus bergerak maju hingga ke Kantor POlsek Persiapan Benai, tepat di kawasan Tanjakan Jirak, Desa Tebing Tinggi. Di situ, massa sudah dihadang puluhan personel polisi dari POlres Kuansing bersama anggota satpol PP Kuansing dengan membuat blokade.

Akibat jumlah yang tidak berimbang, massa bisa lolos dari blokade tersebut secara bergelombang dan aparat Kepolisian yang dipimpin Kasat Damas AKP Chaniago membuat blokade kedua dan tetap gagal. Alhasil bentrok massal kemudian tak terelakkan lagi.***(riauterkini.com)***

By admin Posted in News

One comment on “Dua Kenegerian di Kuansing Bentrok Massal, 22 Warga Terluka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s