Lagi.! Konflik Manusia dan Gajah di Riau Makan Korban

gajah sumatera

gajah sumatera

PERANAP, Riau- Amukan gajah liar kembali memakan korban. Kali ini nasib naas dialami Rinto Lumban Gaol (27), warga perkampungan Lubuk Kandis, Desa Pauh Ranap, Kecamatan Peranap, Kabupaten Indragiri Hulu.

Tubuh Rinto remuk. Begitu juga dengan pondok yang ditinggali bersama istrinya hancur tak berbentuk setelah diamuk seekor gajah, Kamis (3/9) sekitar pukul 00.30 dinihari WIB.

Ini merupakan kematian warga akibat amuk gajah kedua kalinya sepanjang tahun ini. Kasus pertama menimpa kakek Jalinus (83) di Jalan Ikri KM 4,5 RT 1 RW 6 Desa Balai Makam, Duri, Kecamatan Mandau pada 4 Maret lalu. Mirip dengan Rinto, tubuh kakek Jalinus tak remuk tak berbentuk karena diserang oleh kawanan gajah.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Riau Pos, malam naas itu korban bersama istrinya, Emiska (25), tengah beristirahat di pondok miliknya. Sekitar pukul 00.30 WIB, mereka dikagetkan kedatangan seekor gajah yang kemudian merusak pondok tersebut.

Kedua pasangan itu berupaya menyelamatkan diri dengan lari keluar pondok. Bahkan Rinto langsung menyuruh istrinya Emiska melarikan diri ke arah perkampungan untuk meminta pertolongan warga lainnya. Rinto sendiri terus mencoba mengusir gajah yang telah merusak pondoknya itu.

Rinto kemudian diketahui tewas dengan tubuh remuk, sekitar pukul 03.00 WIB, setelah istrinya bersama seratusan warga datang ke lokasi. Selain menemukan Rinto yang tergeletak hanya beberapa meter dari pondok, warga juga menemukan pondok yang biasa ditinggali pasangan muda itu telah dirusak gajah.

Kapolres Inhu AKBP Robinson DP Siregar SH SIK melalui Kapolsek Peranap AKP Efendi mengatakan, jenazah korban baru bisa dievakuasi ke Puskesmas Peranap, yang jaraknya sekitar 27 kilometer dari desa Pauh Ranap, pada Kamis (3/9) pagi. ‘’Sesuai rencana dari pihak keluarga, korban akan dibawa ke Medan untuk dikebumikan,’’ ujar Kapolsek.

Menurut keterangan warga kepada pihak kepolisian gajah yang membunuh Rinto tersebut sudah pergi meninggalkan lokasi. Camat Peranap Drs Haryandi MSi mengakui kalau daerah Pauh Ranap merupakah kawasan perkebunan warga dan jauh dari perkampungan. ‘’Memang lokasi tempat korban tewas ini jauh dari perkampungan, sehingga warga terlambat berikan bantuan,’’ jelas Camat. Dalam pada itu, Camat Peranap menjelaskan, lokasi tewasnya Rinto berjarak sekitar 35 kilometer dari ibukota Kecamatan Peranap atau sekitar 26 kilometer dari pusat Desa Pauh Ranap, tepatnya di perkampungan Lubuk Kandis. Di daerah itu, hampir sebagian besar arealnya adalah kawasan perkebunan kelapa sawit milik warga.

“Agak sulit untuk menjangkau ke sana, karena akses jalan ke sana masih jalan tanah dan baru masuk pengerasan. Lokasinya juga masih cukup jauh dari perkampungan, kalau pun ada orang bermukim, biasanya hanya orang-orang pondok yang menjaga kebun,’’ ungkap Camat memastikan.

Kasus amuk gajah ini pun baru pertama sekali terjadi di sekitar kawasan tersebut. Memang, dijelaskan dia, pada awal tahun 2009 lalu ditemukan sejumlah gajah mati di areal PT Rimba Pera­nap Indah (RPI), namun lokasi tersebut berada jauh di perbatasan Inhu-Pelalawan dan jauh dari Pauh Ranap. “Dengan kasus ini, kita imbau masyarakat untuk waspada, terutama warga yang tinggal di sekitar areal perkebunan. Agak waspadalah,’’ ajak Haryandi.

Dari informasi yang didapatkan, jenazah Rinto, telah diberangkatkan oleh keluarganya ke kampung halamannya di Tarutung, Sumatera Utara. “Tadi sore, (kemarin, red) sudah dibawa oleh keluarganya ke kampung halamannya di Tarutung,’’ ujarnya.

Lintasan Gajah
Di bagian lain, Kabid Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I Edi Susanto mengatakan belum mengetahui perihal kematian Rinto Lumban Gaol akibat diinjak gajah tersebut. Namun saat mendengar lokasi kematian diinjak gajah tersebut, Edi Susanto menyatakan memang kawasan tersebut merupakan habitat gajah dan menjadi lintasan hewan berbelalai panjang itu.

“Daerah itu memang rawan. Itu habitat gajah, namun di sana tidak ada hutan lagi. Sudah penuh dengan HTI dan juga perkebunan sawit. Kalau melintas ke HTI, biasanya mereka hanya melintas, namun kalau ke kebun sawit, maka gajah-gajah itu akan memakan sawit-sawit tersebut,” papar Kabid KSDA Wilayah I yang meliputi wilayah Inhu, Indragiri Hilir, Pelalawan, Kuantan Singingi dan Kepulauan Riau ini kepada Riau Pos malam tadi.

Menurutnya, kematian diinjak gajah tersebut bukan hal yang pertama kali. Tahun 2008, juga ada pegawai perkebunan sawit yang meninggal diinjak gajah. “Kalau tidak salah pegawai koperasi TBS yang sedang mendodos,” ujarnya.

Mantan Kepala Taman Nasional Kepulauan Seribu ini juga mengungkapkan bahwa bulan-bulan sekarang ini, merupakan bulan lintasan gajah. “Ya, biasanya Bulan September hingga Desember nanti,” ujarnya mengingat kebiasaan gajah di tempat itu.

Menurut pria yang sudah dua tahun bertugas di wilayah tersebut, yang paling rawan terinjak gajah adalah masyarakat umum yang tinggal di perkebunan dan jauh dari pemukiman. Pasalnya kalau di wilayah pemukiman biasanya sudah cepat diantisipasi, begitu juga di perusahaan.

Selain itu di perusahaan sudah ada Standar Operasional (SOP). Kalau gajah itu melintas, maka pegawai perusahaan dilarang berada dekat-dekat di wilayah pelintasan. Sementara masyarakat, mungkin banyak yang tidak tahu sehingga ketika ada gajah mendekat mereka malah mengusir. “Gajah kalau sudah melihat makluk selain dirinya, pasti punya naluri untuk mengusir juga,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa terjadi, dia mengimbau agar pemeritahan kabupaten melakukan penanganan terpadu dengan melibatkan berbagai stake holder. Termasuk membuatkan SOP. “Saat ini SOP baru ada hanya di tingkat Provinsi, sementara bagaimana penanganan di daerah belum ada. Padahal sudah diamanatkan. Saya tidak tahu, mengapa pemerintah kabupaten belum juga menindaklanjuti ini,” ulasnya.

Dia menyebutkan antisipasi untuk penanggulangan dan penanganan konflik gajah dan manusia tersebut harus dilakukan mulai sekarang. Pasalnya kawasan itu sudah sampai di tahapan kritis, di mana gajah dan manusia sama-sama mendiami habitat yang sama. Upaya lebih lanjut, dari pihaknya menurutnya saat ini mereka terus menggesah agar Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) segera diperluas.

Sehingga gajah-gajah yang tidak memiliki habitat lagi, bisa mendapatkan habitat baru berupa hutan. Tentang berapa jumlah gajah yang berada di kawasan itu, dia mengaku tidak ada yang tahu persis. Namun ada delapan kantong gajah di Riau, satu kantong bisa berisi 25, 30, bahkan hingga 50.

Konflik gajah-manusia terjadi karena habitat gajah memang semakin sempit dan terganggu. Sepanjang 2008 lalu saja, konflik terjadi di Desa Bencah Klubi (Kampar), Gunung Sahilan (Kampar), Mandau (Bengkalis) dan Kuansing. Tiga manusia tewas akibat amukan gajah di antaranya dua orang di Mandau dan satu orang di Kuansing.

Sedang tiga gajah yang mati terdapat di Balai Pungut, Simalinyang (Kampar) dan Kuansing. Indikasi pembunuhan gajah dijerat dan di tombak hanya untuk mengambil gadingnya yang berharga tinggi.(bud/fat/ndi/fia)
sumber>riaupos.com 04092009 15:05PM

By admin Posted in News

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s